 |
 |
|
 |
 |
| Dunia Wayang Adalah Cermin Dunia Kita |
Perjalanan imaginer itu telah membawa ke Dunia Wayang, saya pulang membawa
cermin kepada anda....
|



| Ulasan Baru |
| Reinterpretasi Simbol Wayang |
Saturday, 02-August-2008 Manusia tidak dapat dipisahkan dari simbol. Wayang adalah simbol, mulai dari tokoh, adegan dan lakon sampai –dalam wayang kulit-- peralatan pentas (kelir, blencong, dsb), pembabakan waktu dan deretan wayang di sisi kiri-kanan kelir.
Menarik untuk disimak adanya kecenderungan kecil, yang berlawanan dengan persepsi mainstream, terhadap penyimbolan wayang ini, utamanya pada tokoh-tokohnya.
|
| Karna, Nyawanya Sebagai Tumbal Lenyapnya Angkaramurka |
Monday, 16-June-2008
ADIPATI KARNA adalah raja Awangga, meskjpun raja tetapi raja kecil. Raja yang masih diperintah raja lain (Ratu reh-rehan-Jawa).
Istrinya Karna itu bernama Dewi Surtikanti, putri Mandaraka, putra Prabu Salyapati. Anak Adipati Karna kalau dalam pewayangan adalah dua orang, lelaki dan perempuan, bernama Warsakusuma dan Dewi Suryawati. Patihnya Karna itu bernama Patih Hadimanggala. Banyak para pejabat atau tokoh masyarakat yang mengagumi tokoh Karna, termasuk guru saya. Ki Narto Sabdo. Bahkan juga Presiden I Bung Karno juga mengagumi tokoh Karna, sebab sejarah serta perjalanan hidup Karna itu agak aneh atau unik.
|
| Baratayudha |
Saturday, 17-May-2008
Kakawin Bharata Yudha, buah karya Pujangga Besar Empu Sedah dan Empu Panuluh, yang diselesaikan pada tahun 1157 Masehi pada Zaman Jayabaya di Kediri itu, hingga sekarang masih tetap menjadi pusat perhatian kaum cerdik cendikiawan dan para sarjana dari luar maupun dalam negeri yang ingin memperdalam bahasa serta kesusasteraan Jawa.
Isi kakawin tersebut, menceritakan perangnya keluarga Pandawa melawan Kurawa.
Karena kedua belah pihak masih darah daging, yaitu rumpun Bharata Yudha. Kakawin tersebut termasuk kitab Jawa Kuna disusun dengan sekar ( puisi ) dan ( digubah berdasarkan kitab Maha Bharata ) yang dikalangan masyarakat Jawa juga dikenal sebagai kitab “ Astadasa Parwa “ ( 18 ) terdiri dari 18 parwa atau bagian.
|
| Darah yang Bercahaya |
Thursday, 03-April-2008 ular sawah menelan telur ayam, o
padahal sungguh sedang dieram
di dalam perut telur itu menetas
merayap keluar dari mulut ular
anak ayam menghilang ke hutan
ular sawah tidur kekenyangan, o!
Kematian Dursasana yang mengenaskan segera tersebar ke segala penjuru pertempuran. Dengan rasa ngeri diceritakan bagaimana Bima tidak lagi bertindak seperti manusia. Ia menghancurkan wajah Dursasana yang buruk rupa, menggocohnya sampai menjadi bubur, menyobek perutnya dengan pisau, mengeluarkan ususnya, dan menghirup darah sebanyak-banyaknya. Demikianlah diceritakan dalam Kakawin Bharata-Yuddha:
|
| Antareja, sang Hanantareja |
Monday, 31-March-2008
Raden Hanantareja, yang berarti memiliki kuasa yang tinggi, yang dalam pedalangan cukup dipanggil Antareja, mempunyai nama lain Wasianantareja, Anantarareja. Ia adalah putra raden Werkudara dengan Dewi nagagini, putri Batara Antaboga, di kahyangan Saptapretala. Antareja kawin dengan Dewi GAnggi, putri Prabu Ganggapranawa raja ular di kerajaan Tawingnarmada. Dari perkawinan ini lahirlah Arya Danurwenda yang kemudian diangkat menjadi patih luar (patih njaba) negara Yawastina pada masa pemerintahan Prabu parikesit.
|
| Antasena, Jalan Manusia Sufi |
Friday, 21-March-2008
Anda tak akan menemukan tokoh ini pada versi Mahabarata aslinya, versi India. Karena tokoh Antasena hanya ada di kisah wayang gubahan Jawa. Pun hanya ada di Yogyakarta. Pada wayang Surakarta, nama Antasena juga ada, tapi Antasena di sini, hanya nama lain dari tokoh Antareja. Sedang di Yogyakarta, Antasena dan Antareja dikisahkan sebagai dua karakter yang berbeda, walaupun keduanya sepertinya sama-sama diciptakan sebagai sosok ‘pencari’ makna kehidupan sejati, tapi nuansa tingkah-laku mereka sangat berbeda.
|
| Ulasan Novel Wayang: Narasoma |
Friday, 14-March-2008
Narasoma adalah putra mahkota Mandraka, anak lelaki Raja Mandarapati. Ia diusir dari tanah airnya karena berlaku pongah dan berhadapan dengan seorang raksasa yang mulia bernama Begawan Bagaspati. Kemudian Narasoma digembleng sekaligus dinikahkan dengan putrinya, Pujawati. Sayangnya, sang pangeran belum dapat mengendalikan tutur kata. Ia melukai perasaan istri tercinta dengan menyatakan malu memiliki mertua bangsa raksasa. Terjadilah peristiwa yang memeras airmata, Begawan Bagaspati menemui ajalnya demi kehormatan Pujawati. Ia mewariskan ajian sakti Candrabirawa kepada Narasoma yang diliputi perasaan sesal.
|
| Ulasan Novel Wayang: Antareja Antasena |
Thursday, 06-March-2008
Saya tertarik pada novel ini karena mengangkat karakter wayang yang sempat saya selami melalui sejumlah referensi untuk keperluan menulis naskah komik pada suatu tahun. Mas Agus paling menaruh minat pada cerita di kerajaan Jalatunda, yang berlokasi di Dieng.
Antareja adalah putra Bima dari Dewi Nagagini, putri Hyang Antaboga yang memerintah bangsa ular. Sedangkan Antasena, saudara seayahnya, beribukan Dewi Urang Ayu yang merupakan putri Batara Baruna, penguasa Samudra (dalam buku ini dieja Samodra). Tokoh Antasena tidak ada dalam Mahabharata, hanya dalam wayang versi Jawa Yogyakarta.
|
| Kayon |
Friday, 29-February-2008 Setelah Duryudhana mati, dan berangsur-angsur pagi meluas, dan suara gamelan bertambah pelan, tancep kayon. Dalang menancapkan lambang gunung itu di tengah-tengah layar. Kisah berakhir, meskipun sebenarnya banyak hal belum diutarakan. Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk itu selesai.
|
| Kangsa Adu Jago |
Saturday, 23-February-2008 Kangsa Adu Jago (pedhalangan gaya Yogyakarta)
Latar Belakang :
Pada saat Prabu Basudewa sedang berburu dihutan didampingi adiknya Haryaprabu Rukma, sangg Prabu mendapat firasat jelek. lalu disuruhnya Rukma untuk kembali ke Kraton MAndura. Disaat yang sama, Prabu Gorawangsa yang tahu keraton MAndura sedang ditinggal Basudewa lalu menyamar sebagai Basudewa dan meniduri si Dewi Maerah.
Betapa kagetnya, Rukma saat ia menemukan Prabu Basudewa sudah ada di Kraton MAndura, lalu terjadilah perng tanding, Prabu Gorawangsa lari.
|
|
|
|
 |
 |
|
 |
 |